Oleh: saya | 2 November 2007

No Way Back

Judul ini bukanlah judul film, tapi kondisi kami dalam perjalanan Karumbu-Sape.
Kami tiba di Karumbu sudah dhuhur. Jadi setelah sholat, kami menikmati makan siang di rumah saudaranya Jannah. Hmm.. nasi putih yang hangat dimakan dengan pindang kembung dan sambal jeruk. Asyik bukan?

Tetapi setelah itu kami harus membuat keputusan. Perjalanan menuju Karumbu tadi terasa berat. Bagaimana perjalanan menuju Sape? Saya terpaksa ikut nimbrung di dapur rumah saudara Jannah untuk menggali informasi dari para ibu/amancawa yang ada di situ. Kesimpulannya, jalan terus menuju sape berat, kembali melalui jalan lama maupun baru juga sama beratnya. Di antara dua pilihan yang sama beratnya, saya memilih untuk terus menuju Sape.

Dengan bismillah, kami pun segera menuju Sape. Target tinggal Sape saja, karena waktu kemungkinan besar tidak mencukupi untuk menuju Wera. Cukup Sape saja lah. Itu pun sudah syukur. Dan di sana kami sudah ditunggu si Yubato Uba alias Khairul.
Benar saja. Perjalanan dari Karumbu menuju Sape benar-benar tidak mudah. Keluar dari desa Karumbu kami sudah disambut oleh jalan rusak, naik turun bukit, bahkan hingga puncak gunung yang tinggi. Jika Anda mengenal kecamatan Wawo yang berarti “puncak”, maka di jalan menuju Sape ini kami menjumpai desa yang bernama Dumu. Dumu artinya daun paling ujung dari sebuah pohon.

Di perjalanan dari Karumbu menuju Sape ini kami mendapat tamasya yang cukup menghibur. Ada pantai berpasir putih dengan air laut yang bening, dan tentu dengan pemandangan laut selatan yang menakjubkan itu. Menurut saya, pantai di daerah tersebut lebih indah dan bagus ketimbang pantai Kalaki yang menjadi obyek wisata di kota Bima. Sayang, jalan menuju pantai tersebut tidak bagus dan jaraknya pun lumayan jauh.

Total kilometer perjalanan dari Karumbu ke Sape menurut angka trip meter di mobil sekitar 30KM. Angka tersebut adalah jalan rusaknya!

Sesampai di Sape, kami disambut oleh jalan beraspal mulus dan perkampungan yang “beradab”. Sape dari arah selatan tampak indah, dan menjanjikan sebuah peradaban setelah keluar dari gunung-gunung di sepanjang perjalanan. Kami tiba di Sape dan langsung menuju ke pelabuhan, karena Yubato Uba sang Pangeran Sape sudah menunggu.

***

karumbu-sape-1.jpg

We go thru…

karumbu-sape-2.jpg

Gunung kan kudaki, lembah kan kuturuni

 

karumbu-sape-3.jpg

Oleh: saya | 2 November 2007

Rute Yang Keliru

Sebenarnya, saya sudah meminta adik saya yang pernah tinggal di Karumbu untuk menjadi penunjuk jalan. Namun karena kesibukannya, pada saat perjalanan safari dilakukan dia tidak bisa ikut.

Saya tentu saja tidak kuatir tersesat. Apalagi dalam rombongan ada Jannah yang asli orang Karumbu. Pasti dia bisa menjadi penunjuk jalan yang lebih baik.

Pertanyaan tentang rute ini lalu muncul: “mau lewat atas atau lewat bawah?” Nah lho. Kok ada dua alternatif? Ternyata, lewat atas adalah melalui jalan baru, melalui Renda dan Ngali (saya juga belum pernah mengunjungi kedua desa “terkenal” ini). Lewat bawah artinya melalui jalan yang lama. Tentu, saya ingin lewat jalan yang biasanya saja (jalan lama), apalagi diberitahu bahwa jalan baru itu masih berdebu karena belum diaspal, dan jalannya lebih berkelok-kelok dan tanjakannya lebih tajam. Keistimewaan jalan baru, kabarnya adalah: view lebih bagus karena bisa melihat laut dari puncak bukit, dan jarak tempuh lebih pendek. Sementara itu, jika lewat bawah, kita bisa melewati pantai Pasir Putih. Saya ingat, waktu SD dulu pernah piknik ke Pasir Putih. Jadi, bisa sekalian bernostalgia.

Jannah dan Sita lalu saya ajak bergabung di mobil saya. Tentu sebagai penunjuk jalan. Kami pun berangkat, dan tanpa ragu-ragu mengambil jalan ke arah Parado, bukan ke arah Renda. Kegembiraan bertamasya membuat kami senang dan menikmati tamasya alam selama perjalanan, hingga kami sampai di Bendungan Pela Parado, bendungan besar yang diresmikan presiden SBY –bertepatan dengan musibah banjir di Bima! Di lokasi bendungan, tidak masuk area karena kami bisa melihat bendungan dari jalan yang berada di atas bukit, kami pun berfoto-ria.

Kami melanjutkan perjalanan hingga Parado Rato, dan menemui pertigaan jalan. “Ke mana ini? Kanan atau kiri?” Ternyata Jannah tidak bisa memilih. Kami lalu bertanya pada orang, dan baru ternyata kami telah salah jalan jauh sekali! Hahaha… ternyata baik Jannah maupun Sita tidak ingat lagi jalan ke kampungnya, kelamaan di rantau. Si Lim yang ikut mobil satunya ternyata menduga bahwa kita memang sengaja ke Parado. Jadilah, mumpung sudah sampai di Parado, kita lalu membeli sambal jeruk khas Parado alias “Mbohi Dungga”.

Selanjutnya kami kembali melalui jalan tadi, melewati bendungan Pela Parado lagi, dan masih jauh menuju Simpasai. Ternyata, untuk menuju Karumbu, kita harus belok kiri di cabang Simpasai, dekat masjid besar. Untunglah, setelah belok di Simpasai, kami lalu terhibur oleh pemandangan indah dan aroma laut. Walaupun kondisi jalan lebih buruk (cukup atau sangat ya?) dan cuaca yang sangat panas (terpaksa pakai AC terus), namun tekad untuk melakukan safari tetap menyemangati kami. (Saya sarankan Anda tidak mengambil rute ini, cukup kami )

Hiburan lain bagi kami adalah menjumpai nelayan yang sedang membakar ikan pindang (Uta Salepe). Ikannya ikan kembung (Ruma Londe). Kami berhenti dan belanja, bahkan sempat mencicipi ikan pindang tersebut dengan sambal jeruk dari Parado (nah, tidak percuma sudah nyasar, bukan?)

Ketika kami sampai di Karumbu, kami menemukan jalan baru dengan aspal hitam yang masih mulus. Olala.. ini lah jalan baru itu. Walaupun belum semua diaspal, namun jika melalui jalan baru, paling tidak bisa menikmati jalan mulus lebih panjang ketimbang melalui jalan lama…

***

pela-parado-1.jpg

pela-parado-3.jpg

pela-parado-2.jpg

karumbu-sape-4.jpg

bohi-dungga-parado.jpg

puru-salepe-4.jpg

jalan-baru-pantai-waworada.jpg

 

Oleh: saya | 2 November 2007

Safari Bima

Perjalanan (safari) keliling Bima adalah salah satu agenda Mudik Bareng 2007. Perjalanan ini dimaksudkan untuk melihat langsung bagaimana keadaan daerah Bima saat ini. Tentu tidak semua daerah bisa dikunjungi karena luasnya wilayah Kabupaten Bima. Namun daerah yang menjadi target perjalanan adalah Karumbu yang dilanjutkan ke Sape dan Wera.

Dipilihnya rute ini didasarkan pada beberapa alasan:

  1. Pada tahun 2006, beberapa rekan Samada Angi sudah melakukan perjalanan/kunjungan ke kecamatan Donggo yang berada di sebelah barat/utara. Karumbu-Sape-Wera berada di sebelah selatan-timur kabupaten Bima.
  2. Pak Muhammad, moderator group Samada Angi berasal dari Karumbu, serta banyak lagi rekan-rekan di group Samada Angi yang berasal dari Karumbu. Karumbu menjadi makin populer karena banyak “orang pintar” berasal dari sana.
  3. Kenyataan di masyarakat Bima sendiri, rata-rata sudah pernah mendengar nama Karumbu. Orang dari desa atau daerah lain di selatan cenderung menyebut asalnya dari Karumbu, walaupun bukan (tidak tepat) berasal dari Karumbu.
  4. Saya melihat dari Google Earth ada jalan di daerah selatan yang mengarah ke timur. Saya menduga itu pasti jalan dari Karumbu ke arah Sape, dan dugaan ini benar. Ada seorang saudara saya ternyata pernah melewati jalan tersebut.

Seperti apa Karumbu? Itulah pertanyaan dalam hati saya, karena saya memang belum pernah sampai ke Karumbu. Sepertinya, sebuah nama besar di masa lalu.

***

safari-1.jpg

Dua mobil, 15 orang, kami melihat masa lalu dan masa depan

 

 

 

Older Posts »

Kategori