Suasana lebaran seperti inilah yang dirindukan itu.













Suasana lebaran seperti inilah yang dirindukan itu.













Pacuan Kuda atau dalam bahasa Bima disebut “Pacoa Jara” tampaknya makin marak di Bima. Paling tidak pacuan kuda diselenggarakan 2 kali setahun, yaitu pada hari-hari besar seperti Hari Proklamasi (Agustus) dan Hari Pemuda (Oktober). Pacuan kuda ini dilaksanakan dalam bentuk kejuaraan, bahkan melibatkan juga peserta dari daerah lain, Dompu, Sumbawa, hingga dari Lombok.
Kebetulan anggota Samada Angi ada yang gemar kuda, yaitu Yusuf (atau lebih dikenal sebagai MyOff atau MyNcokimori) dan Wahid (Duwahi). Yusuf mempunyai dua ekor kuda bernama Madona dan Kasipahu. Madona khabarnya ganti nama menjadi Ncokimori.

Bung MY dan Kuda Kesayangan (Kasipahu atau Ncokimori?)

Suasana Trene (training) di Pacuan Panda

Walaupun hanya trene, penonton sudah berjubel. Judi pun tak ketinggalan.
Konon khabarnya, hadiah bagi jawara pacuan kuda ini tidak sedikit, sehingga banyak peminatnya. Hadiah pertama antara lain sebuah sepeda motor + sepasang anak sapi + hadiah lainnya. Setiap peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000,- Jika ternyata kalah dan keluar, peserta yang penasaran bisa mendaftar lagi. Nah, untuk satu periode pacuan, jumlah pendaftar ini bisa mencapai 800 hingga 1000 peserta!
Selain di Panda, arena pacuan ada juga di kota Bima dan di Sila.
Siapa ingin ikutan?
Acara Kaboro Weki (kopi darat) anggota BimaCenter/SamadaAngi di Bima dilaksanakan pada hari Senin, 15 Okt 2007. Hadir pada saat itu sekitar 15 orang, termasuk Haer, Enny, Irwan, Lim, Yusuf “MyOff”, Wahid, Jannah, Sita, Dewi, dan lain-lain.
Topik diskusi berkembang dari kuda kasipahu hingga pencalonan bupati kembali, dari kondisi pelajar/mahasiswa Bima hingga kapital daerah yang tidak seberapa.

Cowok: Irwan, Wahid, Haer, Yusuf (jongkok), dkk.

Cewek: Dewi (tinggi) dkk, Sita, dan Jannah.

Ngaha di sarangge, kalembo ade

Nuntu Kapoda, Kapoda Nuntu

Pokoknya, wati loa na wati!