Salah satu tempat tamasya bagi masyarakat Bima selain Lawata adalah Kalaki. Kalaki adalah pantai berpasir yang cukup landai, terletak di sebelah selatan kota Bima. Dari kota Bima, melewati Lawata menuju ke arah Lapangan Terbang Palibelo. Di Kalaki, pengunjung bisa bermain air laut yang dangkal, atau piknik sambil menikmati pemandangan laut teluk Bima. Pengunjung Pantai Kalaki umumnya berasal dari kota Bima dan dari kecamatan Woha dan Belo/Palibelo. Pada waktu liburan seperti saat Aru Raja (Lebaran), pantai Kalaki ramai sekali. Para pedagang jauh-jauh hari sudah mendirikan tenda-tenda di pinggir jalan sepanjang pantai.
Sebenarnya, pantai Kalaki tidaklah terlalu bagus. Pasirnya bercampur lumpur sehingga kalau dilalui akan menjadi keruh. Di samping itu terdapat banyak batu-batu yang cukup tajam jika diinjak, dan tentu sangat tidak nyaman karena bisa menyandung. Pantai juga terlalu landai sehingga untuk mendapatkan kedalaman yang cukup untuk berenang atau menyelam, pengunjung harus masuk jauh ke dalam laut.
Jika air laut surut, pemandangan menjadi tidak sedap lagi karena air menjadi sangat jauh ke dalam sementara daratan yang ditinggalkannya tampak penuh batu yang berserakan.
Pemda Kabupaten Bima yang menjadi “pemilik” pantai Kalaki tampak sudah melakukan beberapa “pembangunan” di pantai tersebut, berupa beberapa shelter yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berteduh dan duduk-duduk. Namun jumlahnya tentu tidak mencukupi saat pengunjung ramai seperti ketika Aru Raja. Pengunjung akhirnya menggelar tikar dan berkelompok di kebun orang di seberang pantai. Mereka umumnya mengadakan acara berbeque atau “bakar-bakar” di tempat itu. Biasanya, yang dibakar adalah ayam dan ikan laut.
Pantai Kalaki, sekali lagi, menjadi pilihan masyarakat untuk piknik karena tidak banyak pilihan yang lebih baik lagi. Pantai di teluk Waworada (sebelah timur Karumbu) yang lebih indah dengan view pantai selatan sangat jauh dan fasilitas jalan juga belum memadai. Dalam hal ini, Pemda Kabupaten Bima masih harus berperan lagi dalam menata obyek wisata yang dibutuhkan oleh masyarakat.
***


jadi inget pulang kampung tahun 2005, sempat mengunjungi pantai kelaki ( aq menyebutnya begitu , ga tau yang bener kelaki atau kalaki ), puru uta londe ( ikan bandeng ) itu menu kalo ke pantai…
Oleh: fadlun_dong on 1 November 2007
at 2:07 pm
Yang jelas klo di pantai enaknya bakar ayam kampun doco kai sia dungga. Mmmmm, nyam nyam.
Oleh: Khairil on 2 November 2007
at 9:32 am
fotonya dong pak haer
Oleh: ibnu alwi on 2 November 2007
at 8:32 pm
Trims, yang dah muat picture pantai kelaki, jujur saya merasa terharu dan ingat waktu saya terakhir pulang tahun 2000. Dipantai adalah tempat wisata yang paling indah menurut aku pribadi….. Apa lagi bisa mampir ke panda untuk garosonya…. enak bangeeeeeeeeettttt…..
Oleh: mas aries on 6 November 2007
at 12:58 pm
Sebenarnya view di sepanjng pantai kalaki cukup Indah cuma sayang gunung dan pohon disekitarnya gersang dan tandus, beberapa bebatuannya sudah dikotori tulisan2 yg tidak tertib.kalo Pemda punya perioritas pengembangan potensi pariwisata…mungkin pantai kalaki bisa saja disulap seperti “Losari-nya” Makasar…!wah, tapi jauh ya…cuma sebuah mimpi kayaknya..!ohya Pak haer, dari Pantai Kalaki ini kemudian terus kearah Rumah Makan Lesehan “La Hami” gak ada Pic-nya ya?Sayang gak sempat diambil suasananya….
Oleh: Dewi or DeYe on 9 November 2007
at 5:52 pm
Kayaknya bukan La Hami deh namanya, tapi Ama Hami. Nah, Amahami inilah yg kayaknya mo niru2 pantai Losari di Makassar. Cuman sayangnya, di Amahami ketemunya masakan Jawa dan luar Bima saja, gak ada makanan khas Bima. Kalo di Losari, pantas ketemu Coto, Konro, dll.
Apa perlu insentif khusus bagi penjual Kagape, Karo Witi, Mina Sarua, dll. di Amahami?
Oleh: Haer on 12 November 2007
at 2:18 pm
Ide yang bagus pak Khaer mungkin dapat memotivasi orang-orang bima untuk lebih mengembangkan masakan khasnya. Sampai yang jual bakso di ama hami bukan wong Bima lho….Kenapa yah?
Oleh: Jannah on 13 November 2007
at 8:05 pm
opps..maksudnya Ama Hami yaa…beda2 tipis kok hihii…jd pengen tau juga kenapa ide awalnya pake nama “ama hami”..?ada yg tau?namanya sih boleh lokal..tapi tongkrongannya mmg jd spt uda hami, mas hami, dan A’a hami menu lesehannya…
Oleh: deye on 14 November 2007
at 9:43 pm
oooooo,,,jadi g2 ya?? ternyata di Ama Hami nda ada makanan khas Bima?? saya setuju ma Pak Haer,,knp harus ‘makananx orang lain’?? seharusnya dijadikan ajang ‘pameran’ makanan khas Bima, yang dulu2 itu… sampe sekarang saya belum pernah mampir di Ama Hami krn diharuskan kuliah ke luar kota (Makassar) sejak pembangunan Ama Hami…moga pas saya kesana,AmaHami lebih indah ya & menunjukkan The Real Mbojo,,,Amiiiiin………
Oleh: uswatun on 24 November 2007
at 11:06 am
sama mba Uswatun, saya juga belum pernah lihat suasana di ama hami tuh kayak apa tapi cerita temanku sih…menyenangkan sekaligus ‘menggairahkan’ kata temanku lho…kemarin hampir jadi ke ama hami ada teman yang mau traktirin bakso tapi belum takdirnya kali yah…mudah2an ga pa pa dengan adanya gempa kemarin.
Oleh: Jannah on 28 November 2007
at 5:26 pm
lam nal aza semuannya
Oleh: junaidin on 16 Januari 2008
at 4:12 pm
aLa RuMa RaHaTaLaE….
eDe NTiKa rO RaSo PoDa daNa rO RaSa NdaI KaMaNaE…
MaDa darI TaHuN 2000 saMpE dGN sKg bLuM PeRNaH PuLaNG kE BiMa kRN MsH MeRaNTaU uTk MeNcoba MeNgadU NaSib di JaKaRTa dGN sLaLu BeRpeGaNg TeGuH pD MOTTO NdaI MboJo yaITu “…MAJA LA’BO DAHU…RO…NGAHA AINA NGOHO…”
…JuJuR, MaDa SaNGaT SaLuT & BaNGGa Ta SaRa’a WeKi iTa ‘doHo MawaRa Ta DaNa rO RaSa MboJo & MaDa-puN SaNgaT BeRTerIMa KaSiH dGN aDaNya PerUbaHaN yG SaNgaT SiGNiFiKan Yg TerJaDi Ta DANA RO RASA NDAI MBOJO AKE…
…MdH”aN iNi bS diJaGa, diLeSTaRiKaN seRTa dipRoMoSikaN aGaR bS MeNaMbaH APBD di BIMA
“…AKU KANGEN DAN RINDU BANGAT SAMA KAMPUNG HALAMANKU…”
___…MBOJO, JIKA AKU SUKSES DAN BERHASIL DI JAKARTA INI…AKU AKAN PULANG KE BIMA…___
…KaLeMbO aDe-Mu MboJo…
HaR / FraNcOs
KaMpO SuNTu – PaRuGa
BiMa – eNTeBe
di -
JaKaRTa
Oleh: HaR KaMpO SuNTu - MboJo on 26 Maret 2008
at 12:06 pm
seep…
Pantai di Bima banyak yg udah di bangun dan dikelola dengan baik, makin banyak tempat kumpul² kalau pulang kampung…
Oleh: rhakateza on 30 April 2008
at 4:46 am
Lingi ja ade dohoe eda moti mbojo……
Samonto….pernah bersama “My spesial One”
yang kini entah dimana…..hiks….
Walau kini daku jauh dari dana mbojo mantika moci…..I’ll always remember this little cute Beach….
bye..
Sampela mBojo at Semarang City…..
Oleh: v3 mechie... on 26 Mei 2008
at 2:41 pm
ede…kamane.. ka ka wara ja ku wunga dula aka mbojo tahun 2006 ai ede sempat ja ku.. lao ndiha aka pantai kalaki labo lenga doho… sanggowo sarati
he…he… mantap dan mak nyuss…
Oleh: alfiansyah on 18 Juni 2008
at 2:16 am
salam kenal…….buat semua
Oleh: Wahyu Hidayatullah on 20 Juni 2008
at 2:36 pm
Asslamu’alaikum kepada saudara/i ku yang dari Bima.
Kita boleh bangga dengan pembangunan di Bima baik di Pantai Kalaki, Lawata, Wane dll. tapi kita harus siap menanggung semua akibat dari perubahan tersebut. alangkah bagusnya jika obyek wisata di Bima dikelola oleh pemerintah ataupun putera daerah. Dari Kita untuk kita.
yang akan menjadi permasalahan nanti dikemudian hari adalah :
1. Masuknya manusia-manusia yang peradaban mereka terbelakang hingga tidak bisa mengenakan pakaian-pakaian yang pantas (bule).
2. Tempat tepat tersebut akan dikomersialkan, sehingga barang-barang menjadi mahal (otaknya cari untung aja (lumbu mada)
3. Dengan masuknya turis-turus dr luar negeri pasti akan membawa dampak positif dan negatif, yang kita takutkan adalah dampak negatif akan menjadi dominan (lihat Bali, Lombok, Aceh, dll) seperti, kaum nudis akan berkeliaran, Nerkoba, berbaurnya adat Barat dan Timur.
4. Bagaimana dengan anak cucu kita Nanti, apakah mereka masih mengatakan, Santabe ta, Iyo Mada, Kalembo Ade re, Ina Rumae dll.
5. Kita tidak tau, apakah nanti kita masih melihat anak-anak yang membawa obor untuk mengaji.
6. Apa Kita masih bisa menonton pacoa Jara dengan debunya hingga di tabrak oleh Jara.
7. Apa kita masih bisa melihat Gantao dan ndiri biola.
8. Apa kita masih bisa melihat MTQ.
9. Apa kita masih bisa ngepe Umpu lao Kapanto.
10. Apa kita masih bisa Ndui Keu di Kalaki
Menurut saya biarkan tempat-tempat tersebut apa adanya tinggal di poles dan di rawat oleh semua warga Bima, Biarkan kita bebas menikmati keindahan Ciptaan sang Khalik yang maha agung dengan tanpa ada proses yang sulit dengan manusia atau dibatasi WARGA PRIBUMI TIDAK BOLEH MASUK KECUALI BULE (seperti di Kuta).
Tanah Bima adalah Tanah Keramat tanah Adat, Pintunya adalah Lawa ta biarkan sang Bima (Ruma Tere) kembali dan muncul akan melihat Bima sama seperti ketika di titipkan.
Mbojo yang penuh misteri,
Mbojo yang damai
Mbojo laksana Kubah Hadramaut dan Madinah
Mbojo ti waumu kakoa
Mbojo yang penuh Rimpu
Mbojo ma ka awa weki
Mbojo ma Rangga Tuntu
Kalembo mena ade re cina ro Angie, ndende umu mena ta jaga kancoreku Mbojo ka aina ka iha.
sambu wali pa, do do ncore wa’u ku
Wassalam
Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad.
Oleh: Iyed on 1 Juli 2008
at 12:39 am
salam kenal buat semua,
penting cua kahaba angi seperti ini.dari dulu pengen lihat potret bima eh baru sekarang terobati rasa pengennya.doum sa’e doho teruskan perjuangan jangan pantang menyerah mada yakin dou mbojo akan slalu terdepan asalkan ndai cua hanta angi n tetap samada angi
Oleh: arman on 9 Agustus 2008
at 9:51 pm
melihat perkembangan kota/kabupaten Bima sekarang ini perlu di akui sangat luar biasa.kemajuan di bidang teknologi maupun informasi sangat pesat sekali.
dari segi budaya,hampir “Kebaratan”sangat dominan daripada “Kedaerahan”.itu adalah akibat dari perkembangan Global yang melanda ke seluruh pelosok desa,termasuk Bima.
namun….aku sangat terpukul dengan perkembangan yang ada sekarang ini.terakhir kemarin aku pulang ke kampung.banyak yang hilang dari kebiasaan yang pernah aku rasakan saat aku masih kanak,remaja.
sekarang,silahturahmi sangat beda di saat aku remaja.kehidupan lebih parah dibanding kota besar{lu-lu,gua-gua}itulah yang terjadi sekarang ini.
pakaian hanya kamuflase belaka,selingkuh ada hampir semua desa,keperawanan bukan sesuatu yang perlu di pertahankan,beda kala aku remaja dulu.pacaran…ketemuan aja takut nya na ujudillah………..
memang itulah dampak dari kemajuan teknlogi yang tidak di barengi dengan peningkatan KEIMANAN kita.
mari….saya mengajak rekan rekan agar menjaga dan mendidik anak,keponakan,saudara saudara kita jangan sampai melakukan di luar Norma-norma Agama yang kita anut”Islam”.
kalau bukan sekarang……….kapan lagi,tidak ada kata terlambat bila kita mau.mari kita ajak di lingkup kecil (Keluarga) dulu.Insya Allah……..dengan Niat baik,Allah akan memberikan petunjuk,Amin……………..
salam
HermanDhena
Oleh: herman effendy on 23 Agustus 2008
at 10:26 am
kelaki beach……o my good!!!!
aku jd kangen banget ama bima nie……terakhir aku dan anggota pangguyuban sampela mbojo ngadai acara di sini!!!!!!
goo head mbojo..!!!!i miss u so much……
mai mena ra dou dou mbpjp kedei weki mu di dana mbojo!!!!!
ai na lao rero……mbojo dompu rasa ndai……..wancuku lingi arie…………
Oleh: alfian on 29 Oktober 2008
at 5:24 pm
pantai kalaki dan wadu mbolo mengingakkanku dengan kekasiku dulu,, yang kini tlah berpisah oleh jarak dan waktu yang begitu jauh,,,, bima>mataram>malang………
Oleh: mandala on 21 Januari 2009
at 4:39 pm
mantap abiess111……….
pokoknya pantai kalaki jadi tempat londiha paling oke…..loasire banyakin lagi rumah2 gubuk untuk berteduh biar nongkrongnya di pantai kalaki jadi lebih enjoy!!!!!!!! soalnya agak panas sich cinae,,,, skalian biar ga macet biasanya saking ramenya jadi pengunjung membludak sampe di jalan raya…kan lumayan suasananya sedikit jadi lebih teratur.
Oleh: alan on 7 Maret 2009
at 1:27 pm
iRaE…………..kLo BiCarA NtaNk PnTai KLaKi jd PNgEn MuDik Z,,Tp KRn aDa SiTus Di Intrnet YG MMuaT PoTo2 Bima TerCiNta Jd SDikit Bs TerObatI_!!!!!!!!!!!!!
SLam KnAl CiNa RO AnGi, MoGa SHt WaL AFiat
Oleh: La IMuet dR BaRaLAu on 21 Mei 2009
at 5:57 am
kalaki ada tempat menut saya ada lempat istimewa buat saya 1jt kenangan.tpi yg kurang di kalaki hanya kurang perawatan dari pemerinta kota bima.
Oleh: fariz septian on 13 Juni 2009
at 9:56 pm
Jd pengen plng kmpng nich, kalaki memng tmpt lmayan bgus. Tp sering disalah gunakan, ap lg pas aru raja biasa bnyk pemuda yg menegak miras n menimbulkan keributan hingga mengarah ke perkelahian antar kmpung. Jd, menjadi tugas kita smua utk sling menjaga dan mengawasi hingga terciptax bima yg kondusif. Bravo mbojo…!!!
Oleh: Arief kpng NTT on 25 Juli 2009
at 7:30 pm
lawata…..??????
pernah jd tmpat kenangan ku loch…..pokokx ada yang lucu saat ak lg kuliah dulu hehehehe……
Oleh: nenenk on 31 Juli 2009
at 12:16 pm
Wahai dou mbojo asli di rantauan orang, yuuk kita pulang ke kampung halaman masing2 keluarkan kemampuan, potensi atau ke ahlian kita untuk memajukan kota kita tercinta (bima-dompu), dari kemampuan yg kita miliki berdasarkan pengalaman dapat di ibu kota hayuuk kita kembangkan, utk membangun desa-kota kita, jangan kalah ama lombok atau bali. Dari la abdul majid dou mpuri sila. Add: zoel_majid@yahoo.co.id
Oleh: Abdul majid on 8 Oktober 2009
at 1:27 am