Posted by: saya | 30 Oktober 2007

PANTAI KALAKI

Salah satu tempat tamasya bagi masyarakat Bima selain Lawata adalah Kalaki. Kalaki adalah pantai berpasir yang cukup landai, terletak di sebelah selatan kota Bima. Dari kota Bima, melewati Lawata menuju ke arah Lapangan Terbang Palibelo. Di Kalaki, pengunjung bisa bermain air laut yang dangkal, atau piknik sambil menikmati pemandangan laut teluk Bima. Pengunjung Pantai Kalaki umumnya berasal dari kota Bima dan dari kecamatan Woha dan Belo/Palibelo. Pada waktu liburan seperti saat Aru Raja (Lebaran), pantai Kalaki ramai sekali. Para pedagang jauh-jauh hari sudah mendirikan tenda-tenda di pinggir jalan sepanjang pantai.

Sebenarnya, pantai Kalaki tidaklah terlalu bagus. Pasirnya bercampur lumpur sehingga kalau dilalui akan menjadi keruh. Di samping itu terdapat banyak batu-batu yang cukup tajam jika diinjak, dan tentu sangat tidak nyaman karena bisa menyandung. Pantai juga terlalu landai sehingga untuk mendapatkan kedalaman yang cukup untuk berenang atau menyelam, pengunjung harus masuk jauh ke dalam laut.

Jika air laut surut, pemandangan menjadi tidak sedap lagi karena air menjadi sangat jauh ke dalam sementara daratan yang ditinggalkannya tampak penuh batu yang berserakan.
Pemda Kabupaten Bima yang menjadi “pemilik” pantai Kalaki tampak sudah melakukan beberapa “pembangunan” di pantai tersebut, berupa beberapa shelter yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berteduh dan duduk-duduk. Namun jumlahnya tentu tidak mencukupi saat pengunjung ramai seperti ketika Aru Raja. Pengunjung akhirnya menggelar tikar dan berkelompok di kebun orang di seberang pantai. Mereka umumnya mengadakan acara berbeque atau “bakar-bakar” di tempat itu. Biasanya, yang dibakar adalah ayam dan ikan laut.

Pantai Kalaki, sekali lagi, menjadi pilihan masyarakat untuk piknik karena tidak banyak pilihan yang lebih baik lagi. Pantai di teluk Waworada (sebelah timur Karumbu) yang lebih indah dengan view pantai selatan sangat jauh dan fasilitas jalan juga belum memadai. Dalam hal ini, Pemda Kabupaten Bima masih harus berperan lagi dalam menata obyek wisata yang dibutuhkan oleh masyarakat.

***

kalaki-01.jpg

kalaki-02.jpg

Responses

jadi inget pulang kampung tahun 2005, sempat mengunjungi pantai kelaki ( aq menyebutnya begitu , ga tau yang bener kelaki atau kalaki ), puru uta londe ( ikan bandeng ) itu menu kalo ke pantai…

Yang jelas klo di pantai enaknya bakar ayam kampun doco kai sia dungga. Mmmmm, nyam nyam.

fotonya dong pak haer

Trims, yang dah muat picture pantai kelaki, jujur saya merasa terharu dan ingat waktu saya terakhir pulang tahun 2000. Dipantai adalah tempat wisata yang paling indah menurut aku pribadi….. Apa lagi bisa mampir ke panda untuk garosonya…. enak bangeeeeeeeeettttt…..

Sebenarnya view di sepanjng pantai kalaki cukup Indah cuma sayang gunung dan pohon disekitarnya gersang dan tandus, beberapa bebatuannya sudah dikotori tulisan2 yg tidak tertib.kalo Pemda punya perioritas pengembangan potensi pariwisata…mungkin pantai kalaki bisa saja disulap seperti “Losari-nya” Makasar…!wah, tapi jauh ya…cuma sebuah mimpi kayaknya..!ohya Pak haer, dari Pantai Kalaki ini kemudian terus kearah Rumah Makan Lesehan “La Hami” gak ada Pic-nya ya?Sayang gak sempat diambil suasananya….

Kayaknya bukan La Hami deh namanya, tapi Ama Hami. Nah, Amahami inilah yg kayaknya mo niru2 pantai Losari di Makassar. Cuman sayangnya, di Amahami ketemunya masakan Jawa dan luar Bima saja, gak ada makanan khas Bima. Kalo di Losari, pantas ketemu Coto, Konro, dll.
Apa perlu insentif khusus bagi penjual Kagape, Karo Witi, Mina Sarua, dll. di Amahami?

Ide yang bagus pak Khaer mungkin dapat memotivasi orang-orang bima untuk lebih mengembangkan masakan khasnya. Sampai yang jual bakso di ama hami bukan wong Bima lho….Kenapa yah?

opps..maksudnya Ama Hami yaa…beda2 tipis kok hihii…jd pengen tau juga kenapa ide awalnya pake nama “ama hami”..?ada yg tau?namanya sih boleh lokal..tapi tongkrongannya mmg jd spt uda hami, mas hami, dan A’a hami menu lesehannya…

oooooo,,,jadi g2 ya?? ternyata di Ama Hami nda ada makanan khas Bima?? saya setuju ma Pak Haer,,knp harus ‘makananx orang lain’?? seharusnya dijadikan ajang ‘pameran’ makanan khas Bima, yang dulu2 itu… sampe sekarang saya belum pernah mampir di Ama Hami krn diharuskan kuliah ke luar kota (Makassar) sejak pembangunan Ama Hami…moga pas saya kesana,AmaHami lebih indah ya & menunjukkan The Real Mbojo,,,Amiiiiin………

sama mba Uswatun, saya juga belum pernah lihat suasana di ama hami tuh kayak apa tapi cerita temanku sih…menyenangkan sekaligus ‘menggairahkan’ kata temanku lho…kemarin hampir jadi ke ama hami ada teman yang mau traktirin bakso tapi belum takdirnya kali yah…mudah2an ga pa pa dengan adanya gempa kemarin.

lam nal aza semuannya

aLa RuMa RaHaTaLaE….
eDe NTiKa rO RaSo PoDa daNa rO RaSa NdaI KaMaNaE…

MaDa darI TaHuN 2000 saMpE dGN sKg bLuM PeRNaH PuLaNG kE BiMa kRN MsH MeRaNTaU uTk MeNcoba MeNgadU NaSib di JaKaRTa dGN sLaLu BeRpeGaNg TeGuH pD MOTTO NdaI MboJo yaITu “…MAJA LA’BO DAHU…RO…NGAHA AINA NGOHO…”

…JuJuR, MaDa SaNGaT SaLuT & BaNGGa Ta SaRa’a WeKi iTa ‘doHo MawaRa Ta DaNa rO RaSa MboJo & MaDa-puN SaNgaT BeRTerIMa KaSiH dGN aDaNya PerUbaHaN yG SaNgaT SiGNiFiKan Yg TerJaDi Ta DANA RO RASA NDAI MBOJO AKE…

…MdH”aN iNi bS diJaGa, diLeSTaRiKaN seRTa dipRoMoSikaN aGaR bS MeNaMbaH APBD di BIMA

“…AKU KANGEN DAN RINDU BANGAT SAMA KAMPUNG HALAMANKU…”

___…MBOJO, JIKA AKU SUKSES DAN BERHASIL DI JAKARTA INI…AKU AKAN PULANG KE BIMA…___

…KaLeMbO aDe-Mu MboJo…

HaR / FraNcOs
KaMpO SuNTu - PaRuGa
BiMa - eNTeBe

di -
JaKaRTa

seep…
Pantai di Bima banyak yg udah di bangun dan dikelola dengan baik, makin banyak tempat kumpul² kalau pulang kampung…

Leave a response

Your response:

Categories