Posted by: saya | 30 Oktober 2007

LAWATA

Jika orang Bima ditanya tentang tempat-tempat wisata yang berada di Bima, salah satu jawaban yang niscaya disebutkan adalah: Lawata.

Lawata memang sudah sejak dulu menjadi sebuah obyek wisata atau tempat piknik bagi masyarakat Bima. Lawata terletak hampir di luar kota Bima, berupa sebuah “tonjolan” ke teluk Bima. Di Lawata terdapat sebuah bukit kecil yang memiliki beberapa buah gua kecil. Pantainya bukanlah tempat yang bagus untuk bermain air, namun air (laut)nya bisa dibilang cukup jernih walaupun kadang berlumpur dan banyak batu-batu yang berserakan.

Karena historinya, Lawata kemudian “dibangun”, dibuatkan banyak “cottage” yang berderet di sepanjang pantainya. Setiap cottage memiliki bagian “dalam” yang bisa digunakan untuk lesehan, bagian luar/depan yang bisa digunakan untuk memandang ke arah laut/teluk, dan tempat berbeque di sebelah luar/belakang. Tampaknya, setiap cottage cukup untuk sebuah keluarga atau rombongan yang lebih dari 10 orang.

Namun sayang sekali, ketika kami mengunjungi Lawata, tempat tersebut terkesan sangat berantakan dan rusak parah. Ketika memasuki gerbang, pintu gerbang yang dipasangi portal kayu yang dibebani batu menghalangi, namun kita bisa melepaskannya sendiri karena tidak ada petugas yang menjaga. Setelah masuk, ada lagi portal kayu yang merintangi mobil masuk ke arah pantai. Ketika kami ingin parkir di depan portal, karena untuk ke pantai bisa berjalan kaki saja, seorang ibu-ibu (usia sekitar 40-an tahun) mendatangi kami dan meminta “uang karcis”. Ibu-ibu tersebut jelas bukan petugas “resmi” karena pakaiannya sangat sederhana, seperti istri penjaga kebun saja. “Uang karcis” katanya Rp1000,- dan kami memberinya Rp10.000,- Saya berpesan kepadanya agar diberikan karcis, dan dia berjanji akan bilang kepada “petugas”nya yang saat itu (katanya) lagi mengambil minuman (ringan bersoda, dia menyebutkan merk). Kenyataannya, ketika sekitar 30 menit kemudian kami keluar, si ibu terlihat tidur di atas balai-balai bambu dan tidak ada “petugas” yang dia sebutkan. Otomatis, karcis yang dijanjikan pun hanya berupa asap transparan (hehehe… sudah asap, gak kelihatan juga kan?)

Tentang cottage, sayang seribu sayang, bangunan-bangunan yang cukup banyak tersebut (terutama mungkin dari segi biayanya) sudah rusak parah. Jika ada keluarga atau rombongan pikinik yang datang, mungkin lebih suka menggelar tikar di pantai atau batu ketimbang menggunakan cottage yang sudah seperti gudang tua yang rusak parah. Ruangan cottage sangat lembab, apek, kotor, dan banyak bagian yang sudah anjlok, rubuh, atau rusak sehingga bisa membahayakan.

Tentang lingkungan Lawata sendiri, juga jauh dari harapan untuk menikmati keindahan atau kenyamanan. Lawata sangat terasa tandus, kering, kotor, dan “terkesan” jorok oleh coretan-coretan kata-kata mesum di dinding dan “atmosfir” mesum yang masih mengambang di udara!

Lalu apa lagi yang bisa diharapkan (jangan kata dinikmati) dari sebuah obyek wisata atau tempat piknik yang paling terkenal di Bima tersebut?

Ketika saya bertemu dengan seorang saudara yang kebetulan menjadi anggota DPRD Kota Bima, saya mendapat informasi (yang tentu tidak terlalu akurat) bahwa pembangunan yang dilakukan di Lawata hanya dilakukan oleh seorang investor yang hanya mengejar pencairan dana Bank atau mendapatkan proyek di Pemda. Setelah itu, perawatan entah diserahkan kepada siapa. Saat ini kepemilikan obyek wisata Lawata berada di bawah Pemda Kota Bima, namun Pemda Kota juga tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk melakukan perawatan dan pengelolaannya.

***

lawata-01.jpg

lawata-02.jpg

lawata-03.jpg

lawata-04.jpg

lawata-05.jpg

lawata-06.jpg

lawata-07.jpg

lawata-08.jpg

lawata-09.jpg

lawata-10.jpg

lawata-11.jpg

lawata-12.jpg

Responses

fotonya dong pak haer

subhanallah…

Ama. (mboto kangampu mada ma ou ita kai ama.-karena mada jelas lebih to’i dari ita umurnya..hehehe)
Ndandi, mada wancuku dihi adeku eda au ra usakan ba ita ke. Sama saja, au ma wara ade Blog ake, ederu MBOJO DIGITAL. (mboto kangampu atas istilah mada). setidaknya dau mbojo atau dou selain dou mbojo na loa iu ro tio, AKE DANA MBOJO. na lebih ntika ro caru wali sekiranya, foto MOTI, DORO, NGGARO, BUDAYA, atau mungkin VIDEO, dsb, upload sara’a ADE BLOG ake. yach, kombi sekedar saran dari ana dou to,i dari parado kanca.

tarima kasi AMA.

WASSALAM

Terima kasih atas respon samena na weki.
Sebagian foto2 masih belum saya terima, karena sewaktu di Bima saya titip di komputer pak Syam.
Kalembo ade ngena, insya Allah akan segera saya lengkapi.

:-)) Saya jadi senyum-senyum sendiri nih, Aduh Lawata… tahun 2005 Pulkam saya pernah mampir di Lawata..ternyata keadaanya masih sama ya di 2007?yang masih kurang pic toiletnya gak ada ya Pak? (ya gak bakalan ketemu juga kali ya pak..Tolietnya mmg gak ada..!!? kebayang gak sih..tempat wisata gak ada toiletnya..ada sih cuma berbentuk kamar gt, cuma kering, gak ada bak airnya dan MassaAllah..Wong edan..kok banyak yg (maaf) buang “kotoran” disitu dan sangat2 jorok duakali…?ck,ck…sampe teman saya nyelutuk, “mgkin buangnya disitu tapi bersihinnya tinggal nyebur aja ke laut :-D..:-))wah..kalo ingat itu, gak Lagi deh ke Lawata…

mungkin sekedar saran dari ‘dambe toi’ yang peduli ma nasib Mbojo mecinya….
kalo bisa Lawatanya dibersihkan lagi,,potensinya besar…
sayang kan, kalo cuma krn kebersihan jadi ‘nda laku’……..(mboto2 kangampu dou ma sa sa’e….)

aaaaaaaaaaaaaa,,,,,
jd pengen pulaaaang…..

lingi adeku aka Mbojo……….

(.T_T.)

Maaf2 nih, sebenarnya saya suka jalan-jalan tapi kenapa untuk ada di Lawata saya kurang tertarik…waktu Aliyah/SMU cuma sekali itupun karena program ektrakurikuler….enakan di OMPU RAMA karumbu lho….asli:-)

buat DPRD bima…tolong dong dibenahi lagi tempat wisata(lawata)..gimana mo maju kota BIMA klo hanya diam aza…sbg putra daerah jujur aza yah saya kecewa dgn kinerja DPRD selama ini ..lamba angi samada rasa…

weeee….pejabat mbojo buka mata dong..pantai lawata jorok banget. lebaran 2007 saya pulkam tidak sempat mampir dilawata.tapi sa liat di internet ini jadi malu neeeee..teman2 suku lain bilang”"”"orang bima banyak yang sukses & Pintar di perantauan ko kampung halamanya kayak gitu..kalau perlu dibantu ngomong aja,,,supaya kami pulkam semua…sory mada dou sape,..bupati mbojo hormad mada de ita kabua kataho toi pu dana rasa kelahiranku,….thanks……

Bupati mbojo kapan program tanam 10 ribu pohon di bima akan dilaksanakan.(bima panas&gersang)aggaran daerah untuk perbaikan daerah dikemanaiin?kalau tidak minta pajak daerah dinaikin aja.terutama pada sektor perdagangan & industri,misalnya anjurkan tiap warga tanam 5 pohon saja/minta kontor swasta/BUMN(Bank/Pertamina/CV.PT.Mall/Suparmarket.dll)untuk membuat program penghijaun.kalau ini bisa terlaksana,inssa Allah bima akan menjadi kota yang indah&sejuk.amin.
salam mada de ita..bupati mbojo..sukses selalu….

yaaa…satu istansi 10 rb pohon.10 istansi aja kan lumayan..yakin deh pasti bima jadi kota yang indah seluruh wilayah indonesia…..amin..amin…amin…..
lengaku mawara de rasa mbojo bune habare au kemidi kai weki eda dana rasa ma sampu ndede…bantu ja pejabat daera kita ne,,paling tidak kasi ide apakeeeeeeeeeeeee…makasih…..
SAPE. …yes.

Leave a response

Your response:

Categories